Kamis, 16 Mei 2013

HUMANISTIK EKSISTENSIAL


PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG MASALAH
            Humanistic eksistensial adalah Sebuah pendekatan psikoterapi yang menekankan keunikan manusia, kualitas positif, dan potensi individu, dimana usaha yang dilakukan dalam membantu masalah tidak mungkin tanpa mengenal dengan baik tentang manusia itu sendiri.Teori humanistik dikembangkan oleh Maslow tahun 1908-1970 di Amerika Serikat. aslow mengemukakan bahwa individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat hirarkis.
            Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
            Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama, seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan rasa aman dan seterusnya. Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.






B.RUMUSAN MASALAH
            Dengan latar belakang  yang telah dijelaskan diatas , maka penulis bermaksud untuk menjelaskan.
1.  Apa sebenarnya pengertian eksistensial humanistik, dan tujuannya
2.  Prinsip dasar teori konseling eksistensial
3.Membangun hubungan intrapersonal yang positif antara konselor dan klien
4. Teknik Konseling Humanistik Eksistensial
5.Proses konseling eksistensial






















BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN EKSISTENSIAL HUMANISTIK
Ø  Pengertian Eksistentnsial Humanistik
      Psikoterapi Humanistik membicarakan kepribadian manusia ditinjau dari segi Self dari (Akunya) dan memandang tujuan belajar adalah untuk “memanusiakan manusia”. Proses belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.

  1.  Hakikat Manusia
Pendekatan eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia.Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada suatu pemahaman atas manusia. Ada beberapa konsep utama dari pendekatan eksistensial, yaitu ;
1.      Kesadaran diri
      Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri,suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
2.      Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan.
      Kesadaran atas kebebasan dan tangung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar bagi manusia.
3.      Penciptaan makna
      Manusia itu unik, dalam arti bahwa dia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan.Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk yang rasional.



  1. Hakikat Konseling
Hakikat konseling eksistensial-humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukanYang paling diutamakan dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan klien. Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif.
D.   Tujuan konseling Eksentensial
a.       Menyajikan kondisi-kondisi untuk memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan.
b.      Menghapus penghambat-penghambat aktualisasi potensi pribadi. membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dan memperluas kesadaran diri.
c.       Membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupan sendiri.

E.     PRINSIP DASAR TEORI KONSELING EKSISTENSIAL
Pendekatan eksistensial berkembang sebagai reaksi atas dua model utama yang lain, yaitu psikoanalisis dan behaviorisme. Kedudukan psikoanalisis bahwa kemerdekaan terbatas pada kekuatan-kekuatan dorongan irasional dan peristiwa yang telah lalu. Kedudukan behaviorisme bahwa kemerdekaan terbatas oleh pengkondisian sosial budaya. Meskipun terapi eksistensial menerima premis bahwa pilihan kita terbatas pada keadaan eksternal, terapi menolak pendapat yang mengatakan bahwa kita ditentukan olehnya.
Terapi eksistensial berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan oleh karenanya bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Pandangan eksistensial didasarkan pada model pertumbuhan dan mengkonsepkan kesehatan bukan keadaan sakit. Seperti yang ditulis Deurzen-Smith (1988), konseling eksistensial tidak dirancang untuk menyembuhkan seperti tradisi model medis. Klien tidak dipandang sebagai orang yang sedang sakit melainkan sebagai orang yang merasa bosan atau kikuk dalam menjalani kehidupan.

  1. Peran dan Fungsi Konselor
      Menurut Buhler dan Alen para ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut.
1.      Mengakui pentingnya  pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.      Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
3.      Mengakui sifat timbale balik dari hubungan terapiotik.
4.      Berorientasi  pada pertumbuhan
5.      Menekankan keharusan terapi terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi.
6.      Mengakui bahwa putusan yang berwenang dan pilihan akhir terletak dengan klien.
7.      Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanisticnya tentang manusia secara implisit menunjukan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
8.      Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandsngan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9.      Bekerja kearah mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

G.    HUBUNGAN INTRAPERSONAL YANG POSITIF ANTARA KONSELOR DAN KLIEN         
            Membangun hubungan interpersonal yang positif antara konselor dan klien,
      Untuk sampai pada hubungan intrapersonal antara konselor dan klien dari humanistik eksistensial ini , sebagai berikut:
1.      Adanya hubungan psikologis yang akrab antara konselor dank lien.
2.      Adanya kebebasan secara penuh bagi individu untuk mengemukakan problemnya, dan apa yang diinginkan.
3.      Konselor berusaha sebaik mungkin menerima sikap dan keluhan serta perilaku indiidu dengan tanpa memberikan sanggahan.
4.      Unsur menghargai dan menghormati keadaan diri individu dan keyakinan akan kemampuan individu merupakan kunci atau dasar yang paling menentukan dalam hubungan yang diadakan.
5.      .Pengenalan tentang keadaan individu sebelumnya juga keadaan lingkungannya sangat diperlukan oleh konselor.
H.    TEKNIK KONSELING HUMANISTIK
Teknik yang dianggap tepat untuk diterapkan dalam pendekatan ini yaitu teknik client centered counseling, metode penanaman pemahaman masalah klien sendiri sehingga dirinya dapat menerima dirinya sepenuhnya dan menjadi seorangan yang adequate. Untuk mencapai itu konselor hanya menerima apa yang diucapkan oleh klien dan merespon dengan sikap positif dan ekspesif atau emphatik, dan memberikan penghargaan tak bersarat pada klien. Maka, jelas pada pendekatan ini yang lebih aktif adalah klien. Karena konselor hanya sebagai cermin, tempatnya merefleksikan dan melihat proyeksi diri.
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:
1.      Penerimaan
2.      Rasa hormat
3.      Memahami
4.      Menentramkan
5.      Memberi dorongan
6.      Pertanyaan terbatas
7.      Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
8.      Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
9.      Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna.
I.       PROSES KONSELING EKSISTENSIAL
Pada tahap tengah dari konseling eksistensial, klien didorong semangatnya untuk lebih dalam lagi meneliti sumber dan otoritas dari system nilai mereka. Proses eksplorasi diri ini biasanya membawa klien ke pemahaman baru dan beberapa restrukturisasi dari nilai dan sikap mereka. Klien mendapatkan cita rasa yang lebih baik akan jenis kehidupan macam apa yang mereka anggap pantas. Mereka mengembangkan gagasan yang jelas tentang proses pemberian nilai internal mereka.
Tahap terakhir dari konseling eksistensial berfokus pada menolong klien untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka sendiri. Sasaran terapi adalah memungkinkan klien untuk bisa mencari cara pengaplikasian nilai hasil penelitian dan internalisasi dengan jalan yang kongkrit. Biasanya klien menemukan kekuatan mereka dan menemukan jalan untuk menggunakan kekuatan itu demi menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan.

  1. Kelebihan dan Kekurangan
1.   Kelebihan
-          Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
-          Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
-          Memanusiakan manusia.
-          Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
-          Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa
2.   Kelemahan Eksistensial-Humanistik
-          Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
-          Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas.
-          Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
-          Memakan waktu lama.











BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
            Terapi eksistensial-humanistik berdasarkan pada asumsi bahwa kita bebas dan bertanggung jawab atas pilihan yang kita ambil dan perbuatan yang kita lakukan. Yang paling diutamakan dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan klien. Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif. Ada tiga tahap dalam proses konseling eksistensial-humanistik. Dan tidak ada teknik khusus yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik. Kecocokannya untuk diterapkan di Indonesia terletak pada pendapat kalangan eksistensial tentang kebebasan dan control dapat bermanfaat untuk menolong klien menangani nilai-nilai budaya mereka. Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap dan perilaku mereka.

SARAN
            Sebagai seorang konselor sebaiknya selalu menjaga hubungan baik dengan klien, mampu mengerti dan menjaga perasaan klien sehingga klien merasa nyaman dan proses konseling dapat berjalan lancar seperti yang diinginkan klien.










PENDEKATAN KONSELING PSIKOANALISA (PA)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendekatan psikoanalisa dikembangkan oleh Sigmund Freud (1856-1939). Sigmund Freud merupakan orang Jerman keturunan Yahudi lahir 6 Mei 1856 di Freiberg dan meninggal di London 23 September 1939. Psikoanalisis mulai diperkenalkan oleh Freud pada buku pertamanya yaitu penafsiran atas mimpi (Dream Interpretation) pada tahun 1900.
Istilah psikoanalisa mula-mula hanya digunakan pada hal-hal yang berhubungan dengan Freud saja, sehingga psikoanalisis dan psikoanalisis freud memiliki arti yang sama. Hal ini disebabkan karena murid-murid freud yang mengembangkan teori psikoanalisis baik yang sejalan maupun tidak, pada umumnya menggunakan istilah atau menggunakan nama yang berbeda untuk menunjukkan identitas ajaran mereka. Seperti Carl Gustav Jung dan Alfred Adler yang menciptakan psikologi analitis (analytical psychology) dan psikologi individual (individual psychology). Namun sejak psikoanalisis menjadi mode yang tersebar luas, istilah psikoanalisis banyak digunakan tidak saja pada hal-hal yang bersangkutan dengan Freud. Sampai akhir abad ke-19, ilmu kedokteran berpendapat bahwa semua gangguan psikis berasal dari salah satu kerusakan organis dalam otak. Belum banyak iluan yang meneliti area afektif yang menyebabkan gangguan psikis. Psikoanalisis merupakan salah satu factor yang memberikan pengaruh dalam mengubah pendapat tentang penyebab gangguan psikis.
            Psikoanalisa juga merupakan suatu metode penyembuhan yang bersifat psikologis dengan cara-cara fisik. Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud. Konsep Freud  yang Anti rasionalisme mendasari tindakannya dengan motivasi yang tidak sadar, konflik dan simbolisme sebagai konsep primer. Manusia secara esensial bersifat biologis, terlahir dengan dorongan-dorongan instingtif, sehingga perilaku merupakan fungsi yang di dalam ke arah dorongan itu. Manusia bersifat tidak rasional, tidak sosial dan destruktif terhadap dirinyadan orang lain. Libido mendorong manusia ke arah pencarian kesenangan, libido terbagi menjadi 2, yaitu eros sebagai dorongan untuk hidup dan thanatos sebagai dorongan untuk mati.
B.     Rumusan Masalah
1)      Landasan Historis / Konsep Dasar Psikoanalisa
2)      Hakekat Manusia
3)      Hakekat Konseling
4)      Tujuan Konseling
5)      Karakteristik
6)      Peran dan Fungsi Konselor
7)      Hubungan Konselor dengan Klien
8)      Tahap Konseling
9)      Teknik Konseling
10)  Kelebihan dan Keterbatasan
C.    Tujuan Penulisan
1)      Mengetahui Landasan Historis / Konsep Dasar Psikoanalisa
2)      Mengetahui Hakekat Manusia dalam Pendekatan Konseling Psikoanalisa
3)      Mengetahui Hakekat Konseling dalam Pendekatan Konseling Psikoanalisa
4)      Mengetahui Tujuan Konseling Pendekatan Konseling Psikoanalisa
5)      Mengetahui Karakteristik Pendekatan Konseling Psikoanalisa
6)      Mengetahui Peran dan Fungsi Konselor dalam Pendekatan Konseling Psikoanalisa
7)      Mengetahui Hubungan Konselor dengan Klien dalam Pendekatan Konseling Psikoanalisa
8)      Mengetahui Tahap Konseling Psikoanalisa
9)      Mengetahui Teknik Konseling Psikoanalisa
10)  Mengetahui Kelebihan dan Keterbatasan Pendekatan Konseling Psikoanalisa





BAB II
PEMBAHASAN

A.      Landasan Historis / Konsep Dasar
     Psikoanalisa merupakan suatu system psikologi Sebagai suatu system psikologi, psikoanalisa merupakan sistem yang paling lengkap yang tersedia. Psikoanalisa mengandaikan pengalaman individu baik dimasa kini maupun dimasa lampau, baik situasi individunya maupun situasi sosialnya. Psikoanalisa pada hakikatnya merupakan sebuah teori kepribadian. Teori kepribadian menurut Freud, menyangkut tiga hal:
1.      Struktur kepribadian
Id
                        Id adalah system kepribadian yang orisinil; kepribadian setiap orang hanya terdiri dari id ketika dilahirkan.id kurang terorganisasi, buta, menuntut, dan mendesak. Id bersifat tidak logis , amoral, dan disorong oleh suatu kepentingan: memuaskan kebutuhan –kebutuhan naluriah,
                        Id adalah sumber segala dorongan; reservasi naluri-naluri. Dengan kata lain id adalah aspek biologis yang merupakan system kepribadian yang asli.
Ego
                        Merupakan Bagian rasional dan dasar dari pikiran, yang membuat keputusan dan berhadapan dengan realitas dunia luar. Ego adalah aspek psikologis yang timbul karena kebutuhan organisme untuk berhubungan dengan dunia kenyataan.
                        Secara teoretis, ego lebih mudah menghadapi bahaya-bahaya eksternal daripada bahaya-bahaya internal. Bahaya eksternal dihadapi dengan cara menghindar, sementara bahaya internal tidaklah mungkin ditangani dengangan cara demikian. Guna melindungi organisme yang mudah menjadi rusak sebagai akibat pemenuhan atau bahkan kesadaran terhadap dorongan-dorongan internal ini, suatu ego dikembangkan dengan beragam pertahanan.
Super ego
                        Merupakan aspek sosiologis yang mencerminkan nilai-nilai tradisional serta cita-cita masyarakat yang ada di dalam kepribadian individu. Super ego juga merupakan “moral” (conscience), gudang peraturan dan larangan berkenaan dengan yang harus anda lakukan dan tidak anda lakukan. Sikap yang dimiliki seseorang dalam super ego sebagian besar merupakan internalisasi dari sikap orang tuanya.
2.      Dinamika kepribadian
                        Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energy psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan super ego. Oleh karena julah energy terbatas, maka terjadi semacam persaingan dalam menggunakan energy tersebut.
3.      Perkembangan kepribadian
                        Kepribadian berkembang sehubungan dengan empat macam pokok sebagai sumber ketegangan, yaitu: proses pertumbuhan fisiologis (kedewasaan), Fermustasi, Konflik, dan Ancaman.
                        Perekembangan kepribadian anak mempunyai tingkatan yang berbeda-beda dari sejak lahir sampai berumur 5 tahun, adalah merupakan periode dasar yang masih belum stabil, maju meningkat pada masa pemuda dan menuju ketenangan pada masa dewasa.
Fase-fase perkembangan tersebut adalah:
1.      Fase oral (0-1 tahun)  pada fase ini mulut merupakan daerah pokok dari pada aktivitas dinamis
2.      Fase anal (1-3 tahun) pada fase ini kateksis dan anti kateksis berpusat pada anal (pembuangan kotoran)
3.      Fase Phallis (3-5 tahun) pada fase ini alat kelamin merupkan daerah erogen terpenting
4.      Fase latent (5-13 tahun) pada fase ini implus-implus cenderung untuk ada dalam keadaan tertekan
5.      Fase pubertas (12-20 tahun) Pada fase ini menonjol dan membawa aktivitas dinamis kembali.Fase geital (20-keatas) Pada fase ini individu telah berubah dari mengejar kenikmatan, menjadi orang dewasa yang telah disosialisasikan dengan realitas.
B.       Hakekat Manusia
1.    Perilaku pada masa dewasa berakar pada pengalaman masa kanak-kanak.
2.    Sebagian besar perilaku terintegrasi melalui proses mental yang tidak di sadari.
3.    Pada dasarnya manusia memiliki kecenderungan yang sudah di peroleh sejak lahir, terutama kecenderungan mengembangkan dirinya.
4.    Secara umum perilaku manusia bertujuan dan mengarah pada tujuan untuk meredakan ketegangang, menolak dan kesakitan dan mencari kenikmatan.
C.      Hakekat Konseling
Freud dalam pendapatnya menyatakan bahwa konseling merupakan proses membantu individu untuk menyadari ketidaksadarannya, dengan kata lain agar individu mengetahui ego dan memiliki ego yang kuat, yaitu menempatkan ego pada tempat yang benar yaitu sebagai pihak mampumemilih secara rasional dan menjadi mediator antara Id dan Superego.Seperti diketahui secara umum hakikat konseling adalah mengubah perilaku.      Dalam pendekatan psikonanalisa hakikat konseling adalah sebagai proses re-edukasi terhadap ego menjadi lebih realistik dan rasional. Freud menganggap bahwa seseorang yang telah dapat menyadari dengan sendirinya akan dapat mengembangkan tingkah laku yang sesuai yakni tingkah laku yang sesuai dan dapat diterima secara sosial. Dalam proses konseling belajar yakni mengenali bahwa dalam dirinya ada resistensi emosional yang kuat. Proses konseling mementingkan faktor afektif serta penekanannya terletak pada faktor interpersonal.
Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian khusus dalam proses konseling, yaitu:
1.      Kontrak dan mengatur teknik. Didalam kontrak dan mengatur teknik ini lebih mengarah bagaiamanseorang konselor mampu membuat kesepakatan-kesepakatan dengan klien, baik dari sisi batasan waktu untuk memulai dan mengakhiri, cara menghadapai klien serta bagaimana konselor mampu membuat kondisi klien nyaman namun tidak menyebabkan kecanduan (addict).
2.      Fase pembukaan analitik Dalam fase ini merupakan fase dimana seorang konselor dituntutuntuk mampu mengungkapkan permasalahnnya, sehingga dalam analisisnya konselor mampu membedakan klien yang menunjukkan gejala histeria atau obsesi klien yang mengalami kelainan tingkah laku. Selain daripada itu didalam konseling juga terdapat teknik-teknik untuk intervensi konseling.
D.      Tujuan Konseling
     Tujuan konseling pendekatan psikoanalisis adalah untuk membentuk kembali struktur kepribadian konseli dengan jalan mengembalikan hal yang tidak disadari menjadi sadar kembali. Proses konseling dititik beratkan pada usaha konselor agar konseli dapat menghayati, memahami dan mengenal pengalaman-pengalaman masa kecilnya terutama antara umur 2-5 tahun. Pengalaman-pengalaman tersebut ditata, didiskusikan, dianalisis, dan ditafsirkan dengan tujuan agar kepribadian konseli dapat direkontruksi kembali.
     Jadi penekanan konseling adalah pada aspek afektif sebagai pokok pangkal munculnya ketidaksadaran manusia. Sudah barang tentu tilikan kognitif tetap diperhatikan, akan tetapi tidak sepenting aspek afektif.
E.     Karakteristik
Terapi freud lebih berpengaruh lebih bila dibadingkan teknik terapi yang dikembangkan oleh ahli lainnya. Teknik terapi Freud memiliki karakteristik tertentu :
-          Dilaksanakan dalam suasana santai
Terapi dilakukan Freud dalam suasana santai. Suasana seperti itu diciptakan Freud melalui penataan ruang, warna dinding, pecahayaan dst yang dibuat dengan sedemikian rupa sehingga klien betul-betul merasa nyaman dan betah berada diruang tersebut. Dengan suasana santai Frued berharap konflik-konflik yang telah ada di alam tidak sadar akan mudah ke alam sadar.
-          Klien diberikan kebebasan
Dalam terapi Freud, klian dibebaskan untuk bicara apa saja termasuk menangis, menjerit, mengumpat, dst. Jika klien mengalami bloking atau kebuntuan Freud berusaha membantu sehingga terjadilah asosiasi antara apa yang ada dalam alam tak sadar dengan apa yang diberikan oleh terapis
-          Waktu pelaksanaan
Pertemuan terapeutik, pertemuan antara klien dan terapis dalam psikoterapi, biasa dilakukan 4 atau 5 kali seminggu (1-2 jam pertemuan), selama 2 sampai 3 tahun.
F.     Peran dan Fungsi Konselor
-          Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tak dikenal oleh konseli.
-          Sedikit bicara tentang dirinya dan jarang sekali menunjukkan reaksi pribadinya.
-          Konselor membuat suatu hubungan kerja dengan konseli.
-          Konselor mendengarkan dan kemudian memberikan tafsiran terhadap pernyataan konseling.
-          Konselor memberikan perhatian terhadap keadaan resistensi konseli yaitu suatu keadaan dimana konseli melindungi suatu perasaan, trauma, dan kegagalan konseli terhadap konselor.
-          Mempercepat proses penyadaran hal-hal yang tersimpan dalam ketidaksadaran konseli yang dilindungi dengan cara transferensi.
G.    Hubungan Konselor Dengan Klien
-          Kontertrafensi (istilah yang mengacu pada kebutuhan konflik yang belum terpecahkan dan reaksi irasional yang konselor miliki kearah yang sedang ditanganinya).
-          Apabila konselor berhasil mengelola secara positif transferensi klien dan mengontrol kemungkinan adanya kontertraferensinya.
-          Konselor netral/anonim dan klien mengembangkan proyeksi kepada konselor. Pusatnya pada mengurangi resistensi dan mengembangkan tranferensi.
H.    Tahap Konseling
-          Tahap pembukaan
Tahap ini terjadi pada permulaan interview hingga masalah klien di tetapakan.
-          Pengembangan tranferensi
Perkembangan dan analisis transferensi merupakan inti dalam psikoanalisis. Pada fase ini perasaan klien mulai di tunjukan kepada konselor, yang di anggap sebagai orang yang telah menguasainya di masa lalunya.
-          Bekerja melalui transferensi
Tahap ini mencakup mendalami pemecahan dan pengertian klien sebagi orang yang terus melakukan transferensi. Tahap ini dapat tumpang tindih dengan tahap sebelumnya, hanya saja transferensi terus berlangsung, dan konselor berusaha memahami tentang dinamika kepribadian kliennya.
-          Resolusi transferensi
Tujuan pada tahap ini adalah memecahkan perilaku neoretik klien yang di tunjukan kepada konselor sepanjang hubungan konseling. Konselor juga mulai mengembangan hubungan yang dapat meningkatkan kemandirian pada klien dan menghindari adanya ketergantungan klien kepada konselornya.
        Jika klien dan konselor berkeyakinan bahwa transferensi bekerja terus, konseling dapat di akhiri untuk menghindari klien melawan konselor. Jika hubungan konseling tidak di akhiri maka konselor dapat mengikuti transferensi itu untuk mengembangkan secara objektif sehingga tercapai otonomi klien.

I.       Teknik Konseling
-          Asosiasi Bebas
Teknik pokok dalam terapi psikoanalisa adalah asosiasi bebas. Konselor memerintahkan klien untuk menjernihkanpkirannya dari pemikiran sehari-hari dan sebanyak mungkin untuk mengatakan apa yang muncul dalam kesadarannya. Yang pokok, adalah klien mengemukakan segala sesuatu melalui perasaan ataupemikiran dengan melaporkan secepatnya tanpa sensor. Metode ini adalah metode mengungkapkan pengalaman masa lampau dan penghentian emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi traumatik dimasa lalu, klien memperoleh pengetahuan dan evaluasi diri sendiri.
-          Interpretasi
Adalah prosedur dasar yang digunakan dalam analisis asosiasi bebas, analisi mimpi, analisis ristensi dan analisis transpsransi. Prosedurnya terdiri atas penetapan analisi, penjelasan, dan mengajarkan klien tentang makna perilaku dimanifestasikan dalam mimpi asosiasi bebas, resistensi dan hubungan terapeutik itu sendiri.Fungsi interpretasi adalah membiarkan ego untuk mencerna materi baru dan mempercepat proses menyadarkan hal-hal yang tersembunyi.
Rambu-rambu Interpretasi:
-          Interpretasi disajikan padasaat gejala yang diinterpretasikan terhubung erat denganhal-hal yang disadari klien.
-          Interpretasi dimulai dari permukaan menuju hal-hal yang dalam (dialami oleh situasi emosional klien).
-          Menetapkan resistensi atau pertahanan sebelum menginterpretasikan emosi atau konflik.
-          Analisis Mimpi
Merupakan prosedur yang penting untuk membuka hal-hal yang tidak disadari dan membantu klien untuk memperoleh tilikan kepada masalah-masalah yang belum terpecahkan,menurut kami (pemakalah) “aspek yang membuat klien mimpi itu dikarenakan adanya sistem imunitas pencernaan otak yang membuat orang itu bermimpi dan bisa saja orang itu berimajinasi tinggi sehingga terkontaminasi oleh masalah-masalah pribadinya sehingga terbawa mimpi”.
-          Analisis dan interpretasi transferensi
Transferensi (pemindahan). Transferensi muncul dengansendirinya dalam proses terapeutik pada saat dimana kegiatan-kegiatan klien masa lalu yang tak terselesaikan dengan orang lain, menyebabkan dia mengubah masa kinidan mereaksikepada analisis sebagai yang dia lakukan kepada ibunya atau ayahnya atau siapapun.
Tujuan dari analisis ini adalah sebagai berikut:
-          Klien memperoleh pemahaman atas pengalaman-pengalaman tak sadar dan pengaruh masa lampau terhadap kehidupan sekarang.
-          Memungkinkan klien menembus konflik lampau yang dipertahankan hingga sekarang dan menghambat perkembangan emosinya.
§  Analisis dan Interpretasi resistensi
     Resistensi sebagai suatu dinamika yang tidak disadari yang mendorong seseoranguntuk mempertahankan terhadap kecemasan. Interpretasi konselor terhadap resistensi ditujukan kepada bantuan klien untuk menyadari alasan timbulnya resistensi.
J.      Kelebihan dan Keterbatasan
Kelebihan
1.      Menggunakan interview sebagai terapi
2.      Pentingnya masa kanak-kanak dalam perkembangan kepribadian
3.      Adanya motivasi yang tidak selamanya disadari
4.      Adanya penyesuaian antara teori dan teknik
Keterbatasan
1.      Terlalu banyak menekankan pada masa kanak-kanak dan menganggap kehidupan seolah-olah sepenuhnya ditentukan masa lalu
2.      Terlalu meminimalkan rasionalitas
3.      Perilaku hanya ditentukan oleh energy psikis
4.      Penyembuhan dalam psikoanalisanterlalu rasional
5.      Penelitian kurang banyak medukung data

           


BAB 3
PENUTUP

Ø  Kesimpulan
        Psikoanalisa berkembang dari ilmu kedokteran dan konsepnya dipakai tidak haya dalam bidang psikologi tetapi juga bidang lain di luar psikologi. Teori Psikoanalisa dari freud dapat berfungsi sebagai 3 macam teori, yaitu teori kepribadian, sebagai teknik analisa kepribadian, sebagai metode terapi ( penyembuan).
        Pada dasarnya psikoanalisa yaitu pendekatan yang membahas kepribadian. Dalam tiga aspek yaitu: Struktur kepribadian yang terdiri dari id, ego, superego. Aspek kedua yaitu dinamika kepribadian, serta yang ketiga perkembangan kepribadian.